FKM Unbrah Gelar Webinar Nasional Pemberdayaan Milenial Hadapi New Normal di Dunia Pendidikan

Kegiatan Webinar FKM Unbrah, Sabtu 27 Juni 2020.

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Baiturrahmah menggelar seminar dalam jaringan atau webinar dengan tema “Pemberdayaan Generasi Milenial Dalam Meningkatkan Kesiapan Dunia Pendidikan Menghadapi Era New Normal pada Sabtu 27 Juni 2020 melalui platform media Zoom.

Hadir dalam webinar itu tiga orang narasumber yang menyampaikan tiga materi berbeda. Ketiga narasumber itu yakni Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pusat Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, M.DM yang menyampaikan tentang Perspektif New Normal dari Dunia Kesehatan Masyarakat. Kemudian Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Prof. Dr. Arif Sumantri, SKM, MKM yang menyampaikan tentang Strategi Optimal Pemberdayaan Milenial Dalam Menyongsong Era New Normal.

Rektor Unbrah Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim , M.S. yang merupakan narasumber ketiga menyampaikan materinya pertama kali sebelum kedua narasumber lainnya. Dalam hal ini Rektor menyampaikan tentang kesiapan dunia pendidikan menghadapi era new normal.

Rektor Unbrah sedang menyampaikan presentasinya.

Menurut rektor yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan tersebut kesiapan dunia pendidikan dilakukan mulai dalam sistem pembelajaran serta sistem keamanan kesehatannya. Semuanya mengacu ketentuan dari Kemenkes dan Kemendikbud.

“Secara garis besar terbagi atas tiga hal yang perlu jadi dasar untuk kesiapan ini yakni dari sisi infrastruktur, dosen dan mahasiswanya,” kata rektor.

Secara infrastruktur mulai menyiapkan untuk protap kesehatan seperti tempat cuci tangan dan kebijakan protektif lainnya seperti penyemprotan desinfektan, penggunaan thermogun untuk proses screening dan juga layanan kesehatan.

Kemudian dalam hal dosen dan mahasiswa juga perlu dipertimbangkan mulai dari penyiapan kurikulum berbasis dalam jaringan, persiapan ruang kuliah dengan prinsip physical distancing. Misalnya dengan mengurangi jumlah mahasiswa dalam kuliah tatap muka apabila pandemi sudah bisa terkendali.

Hal ini penting karena dalam evaluasi pembelajaran daring yang telah dilakukan masih banyak kekurangan seperti akses internet mahasiswa terbatas, kemudian masih beradaptasinya mahasiswa pada sistem sehingga beberapa menyulitkan.

Selain itu pada masa kuliah daring tersebut beberapa kegiatan pendidikan memang tidak bisa dilakukan dengan sistem itu seperti praktik magang, kegiatan pengabdian masyarakat, hingga praktik klinik tenaga kesehatan.

Inilah yang perlu jadi pertimbangan guna memastikan kebijakan masing-masing kampus terkait aturan Kemendikbud tersebut.

Kemudian narasumber kedua Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pusat Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, M.DM menyampaikan beberapa hal tentang pandangan kesehatan masyarakat terkait normal.

Presentasi dari Ketua IAKMI pusat Dr. Ede Surya Darmawan.

Menurutnya terdapat tiga tahapan dalam penanganan Covid-19 dan memasuki era new normal ditinjau dari kesmas yakni to prevent, to detect dan to respon. Prevent artinya mencegah, detect artinya mendeteksi dan respon jelas merespon setiap kasus.

Menurutnya langkah Pembatasan Sosial Skala Besar Atau (PSBB) yang dilakukan pemerintah dinilai sudah baik dalam mengurangi intensitas penularan dan mencegah berkembangnya Covid-19 lebih jauh.

Hanya saja PSBB ini dilakukan dengan pemberdayaan kepada masyarakat dengan melibatkan mulai dari keluarga melakukan cuci tangan pakai sabun, kemudian pola hidup bersih sehat selanjutnya ke tingkatan lebih atas dalam bentuk kebijakan dan aturan.

Pada dasarnya kata Ketua era new normal lebih kepada perilaku abnormal atau kegiatan yang tidak biasa saat normal. Seperti biasa tidak pakai masker menjadi pakai masker dan rajin cuci tangan. Biasa tidak jaga jarak menjadi harus menjaga jarak. Untuk itulah kebijakan yang ditetapkan pada New Normal ini disesuaikan dengan protap kesehatan yang telah disepakati.

Selain memaparkan terkait pandangan new normal, Dr. Ede juga menyampaikan perkembangan terbaru jumlah penderita Covid 19 di Indonesia dan dunia dalam satu Minggu terakhir. Di samping itu juga menyampaikan situasi dan kondisi penanganan Covid-19 di Indonesia yang mulai menggencarkan tes massal untuk membongkar “gunung es” kasus yang masih tersembunyi.

Moderator Webinar Seville Ukhti Huvaid , SKM, M.Kes.

Narasumber ketiga pada kegiatan ini Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Prof. Dr. Arif Sumantri, SKM, MKM. Dalam pemaparannya guru besar UIN Jakarta itu menyampaikan peranan generasi yang lahir tahun 1980 hingga 2000 dalam menjadi motivator dalam era New Normal.

Dalam presentasinya Prof Arif menyampaikan beberapa penelitian terkait kondisi generasi milenial di Indonesia saat ini. Poin penting yang dimiliki generasi milenial yakni telah melek teknologi mengingat sebagian besar amat bergantung pada internet.

Artinya generasi milenial ini menjadi contoh atau model dari penerapan beberapa kebiasaan di zaman new normal saat ini akibat pandemi Covid-19. Generasi ini juga yang harus menjadi garda terdepan dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Terlepas dari perilaku negatif lainnya seperti malas, kepedulian sosial tingkat tinggi harus dimunculkan oleh generasi milennial guna mendukung percepatan pemutusan rantai penyakit tersebut.

Ketua IAKMI Sumbar Nizwardi Azkha , SKM, MPPM, M.Pd, M.Si.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Wakil Dekan I FKM Unbrah Seville Ukhti Huvaid, SKM, M.Kes dan dibuka oleh Ketua IAKMI Sumbar Nizwardi Azkha , SKM, MPPM, M.Pd, M.Si dan Dekan FKM Unbrah Sri Oktarina, SKM, MKM.

Di akhir kegiatan dilaksanakan tanya jawab antara peserta dan narasumber kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.

Dari data yang didapat webinar ini diikuti oleh lebih kurang 1.000 orang yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Bahkan sebelum webinar peserta yang mendaftar mencapai lebih dari 3.100 orang. Peserta yang ikut ini mendapat e-sertifikat usai mengisi absen kehadiran.