Unbrah Laksanakan Kajian Dhuha Perdana Secara Daring

Kegiatan Kajian Dhuha perdana daring di Unbrah, Sabtu 17 Oktober 2020.

Universitas Baiturrahmah melaksanakan kegiatan Kajian Dhuha bagi mahasiswa tahun ajaran 2020/2021 Semester Gasal perdana secara dalam jaringan pada Sabtu 17 Oktober 2020 melalui platform ZOOM.

Pada kajian dhuha perdana ini Ustadz sekaligus dosen UIN Imam Bonjol Padang Dr. Syofyan Hadi, M.A, M.Hum menjadi pemateri dengan judul Adab Terhadap Ilmu.

Sebelum kajian, Rektor Unbrah Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, M.S menyampaikan sambutannya sekaligus membuka kegiatan Kajian Dhuha yang diikuti semua mahasiswa baru Unbrah 2020.

Dalam sambutannya Rektor menekankan kegiatan Kajian Dhuha ini merupakan suatu kewajiban bagi mahasiswa selama menempuh studi di Unbrah.

“Minimal mahasiswa dapat hadir sebanyak 80 persen dari total kegiatan bila kurang perlu mencari kajian di tempat lain, sedangkan Kajian Dhuha hanya dilaksanakan di Unbrah untuk kategori kampus swasta,” sebutnya.

Bahkan Rektor mewajibkan mahasiswa membuat resume dari setiap kajian sebanyak dua lembar yang nantinya akan menjadi dokumen kompilasi terkait Kajian Dhuha di Unbrah.

Rektor Unbrah Prof. Dr. Ir Musliar Kasim, M.S

Dalam kata penutupnya sebelum membuka kegiatan Rektor menegaskan Kajian Dhuha merupakan bagian dari sistem pendidikan yang diberikan oleh Unbrah disamping ilmu yang diberikan secara reguler pada setiap bidang yang diampunya.

Sementara itu Ustadz Syofyan Hadi menyampaikan bahwa fungsi manusia di dunia ini terdiri atas dua hal yakni dalam fungsi beribadah dan menjadi khalifah atau memakmurkan bumi. Fungsi khalifah atau memakmurkan bumi ini amat berhubungan erat dalam aplikasi ilmu oleh manusia.

Bahkan poin ilmu ini menjadi kunci perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya di bumi semenjak turunnya Nabi Adam, AS ke bumi. Seperti termaktub dalam QS Al Baqarah ayat 31, bahwa pada intinya manusia pertama Adam diturunkan ke bumi terlebih dahulu diberikan ilmu.

Tinggal saja manfaat atau tidaknya ilmu bergantung pada niat dan usaha seseorang dalam mempertanggung jawabkannya kepada Allah SWT.

Walau demikian dalam Islam terdapat adab atau etika yang telah diajarkan sesuai Al Quran dan hadist terkait Ilmu termasuk keutamaan memperoleh ilmu seperti yang telah diajarkan Imam Syafii.

Dalam salah satu ajarannya terdapat enam syarat seseorang Muslim akan mendapatkan ilmu yang juga menjadi kunci dalam menerapkan adab terhadap ilmu.

Keenam itu yakni Harus ada kecerdasan, harus ada ketamakan, ada kesungguhan, ada modal, menjaga hubungan baik dengan guru serta membutuhkan waktu yang panjang.

Dalam Kajian ini Ustadz Syofyan Hadi hanya memaparkan tiga alasan yakni ilmu karena ada kecerdasan, ilmu karena ada ketamakan dan ilmu karena ada hubungan baik dengan guru.

Ustadz Syofyan mengatakan sesuai Al Quran dan Hadist setiap manusia dilahirkan dalam keadaan cerdas tinggal saja bagaimana memprosesnya dan menajamkannya.

Sesuai Al Quran juga kata ustadz, bangun pagi sebelum Shubuh menjadi cara ampuh untuk mempertajam kecerdasan hal ini dapat mencontoh Nabi Daud AS yang dinobatkan sebagai manusia paling jenius hanya tidur sebentar 4 jam dan bangun pagi-pagi sebelum shubuh.

Tentunya bangun pagi sebelum Shubuh ini harus diikuti dengan kegiatan ibadah seperti Shalat Shubuh, membaca Al Quran atau berzikir.

Ustadz Dr. Syofyan Hadi, M.A, M.Hum

Hal ini bukan hanya mempertajam ilmu seseorang namun juga memperkuat kepercayaan dan Keridhoan Allah kepada kita. Tentunya dalam menuntut ilmu bukan hanya semata mendapat ilmu tersebut namun juga keberkahan dari Allah SWT.

Alasan kedua kata Ustadz yakni ilmu akan muncul bila seseorang tamak dalam mendapatkannya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Musa AS saat memilih waktu yang lebih panjang saat diberikan pilihan oleh Nabi Syuaib A.S di tengah menimba ilmunya.

“Bukan rakus karena makanan atau terlalu banyak tidur, untuk cerdas dan berilmu harus tamak pada pencarian ilmu tersebut,” ujar Syofyan Hadi yang hadir langsung ke Unbrah untuk menyampaikan kajiannya.

Alasan terakhir yang disebutkan Ustadz pada kajian Dhuha ini yakni Ilmu ada kalau kita dekat dan menjaga hubungan baik dengan guru. Bukan semata karena ingin mendapat ilmu dari guru, namun nilai silaturahim serta mengharapkan keridhoanNya menjadi alasan utama agar Muslim selalu memiliki ilmu.

Dari tiga alasan tersebut menjadi poin penting bagi mahasiswa sebelum berkuliah lebih lanjut di kampus. Mahasiswa dituntut cerdas dengan selalu bangun pagi, selalu senang dengan ilmu pengetahuan serta selalu menjaga hubungan baik dengan dosennya.

Di akhir kegiatan terdapat tanya jawab dan pengisian absensi bagi mahasiswa.